Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label keajaiban al quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keajaiban al quran. Tampilkan semua postingan

Alasan Ilmiah Kenapa Ayam Bisa Melihat Malaikat

Alasan Ilmiah Kenapa Ayam Bisa Melihat Malaikat
bismillahirahmannirahhim

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Artinya: "Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS. Ali Imran: 19).

Alasan Ilmiah Kenapa Ayam Bisa Melihat Malaikat Banyak sudah penelitian ilmiah yang membuktikan kebenaran sabda-sabda Nabi Muhammad SAW secara ilmiah mencari kebenaran secara akal tentang ayam yang bisa melihat malaikat dan keledai yang mampu melihat setan. Apa alasannya. Berikut ini adalah salah satunya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﺘﻢ ﺻﻴﺎﺡ ﺍﻟﺪﻳﻜﺔ، ﻓﺎﺳﺄﻟﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻓﻀﻠﻪ، ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺭﺃﺕ ﻣﻠﻜﺎ ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﺘﻢ ﻧﻬﻴﻖ ﺍﻟﺤﻤﺎﺭ، ﻓﺘﻌﻮﺫﻭﺍ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻓﺈﻧﻪ ﺭﺃﻯ ﺷﻴﻄﺎﻧﺎ Arrtinya: "Bila engkau mendengar suara ayam jantan maka mintalah karunia kepada ALLAH karena ia melihat malaikat, sedangkan bila engkau mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada ALLAH dari Setan karena dia melihat setan." (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

 Kita sering kali mendengar hadits ini tetapi bisa jadi jarang memikirkannya dan tidak terlintas dalam benak kita untuk meneliti secara ilmiah mengapa itu terjadi. Kemampuan sistem visual manusia di dunia ini terbatas. Dalam hal ini justru kalah dengan sistem visual keledai dan ayam jantan.

Pandangan mata manusia terbatas dan tidak dapat melihat apa yang berada di bawah sinar infra merah atau di atas sinar ultraviolet. Tapi kemampuan indera ayam jantan dan keledai melewati batas itu. Pertanyaannya sekarang, bagaimana keledai dan ayam bisa melihat setan dan malaikat, bukan sebaliknya?

 Keledai itu dapat melihat dengan sinar infra merah, sedangkan setan sendiri berasal dari jin yang diciptakan dari api. Artinya, setan termasuk dalam lingkup infra merah.

Karena itulah, keledai dapat melihat setan, tetapi tidak bisa melihat malaikat. Adapun ayam jantan, ia mampu melihat sinar ultraviolet,
sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya, artinya dari sinar ultraviolet.

Karena itulah, malaikat dapat dilihat oleh ayam jantan. Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa setan melarikan diri saat disebutkan Nama ALLAH.

 Penyebabnya adalah karena para malaikat datang ke tempat yang disebut Nama ALLAH itu, sehingga setan melarikan diri. إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ Artinya: "Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS. Ali Imran: 19). Kamis, 22 Agustus 2013 Alasan Ilmiah Kenapa Ayam Bisa Melihat Malaikat

Banyak sudah penelitian ilmiah yang membuktikan kebenaran sabda-sabda Nabi Muhammad SAW secara ilmiah mencari kebenaran secara akal tentang ayam yang bisa melihat malaikat dan keledai yang mampu melihat setan.

 Apa alasannya. Berikut ini adalah salah satunya. Nabi Muhammad SAW bersabda, ﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﺘﻢ ﺻﻴﺎﺡ ﺍﻟﺪﻳﻜﺔ، ﻓﺎﺳﺄﻟﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻓﻀﻠﻪ، ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺭﺃﺕ ﻣﻠﻜﺎ ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﺘﻢ ﻧﻬﻴﻖ ﺍﻟﺤﻤﺎﺭ، ﻓﺘﻌﻮﺫﻭﺍ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ، ﻓﺈﻧﻪ ﺭﺃﻯ ﺷﻴﻄﺎﻧﺎ Arrtinya: "Bila engkau mendengar suara ayam jantan maka mintalah karunia kepada ALLAH karena ia melihat malaikat, sedangkan bila engkau mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada ALLAH dari Setan karena dia melihat setan." (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Kita sering kali mendengar hadits ini tetapi bisa jadi jarang memikirkannya dan tidak terlintas dalam benak kita untuk meneliti secara ilmiah mengapa itu terjadi. Kemampuan sistem visual manusia di dunia ini terbatas. Dalam hal ini justru kalah dengan sistem visual keledai dan ayam jantan. Pandangan mata manusia terbatas dan tidak dapat melihat apa yang berada di bawah sinar infra merah atau di atas sinar ultraviolet.

 Tapi kemampuan indera ayam jantan dan keledai melewati batas itu. Pertanyaannya sekarang, bagaimana keledai dan ayam bisa melihat setan dan malaikat, bukan sebaliknya? Keledai itu dapat melihat dengan sinar infra merah, sedangkan setan sendiri berasal dari jin yang diciptakan dari api.

Artinya, setan termasuk dalam lingkup infra merah. Karena itulah, keledai dapat melihat setan, tetapi tidak bisa melihat malaikat.

 Adapun ayam jantan, ia mampu melihat sinar ultraviolet, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya, artinya dari sinar ultraviolet. Karena itulah, malaikat dapat dilihat oleh ayam jantan. Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa setan melarikan diri saat disebutkan Nama ALLAH.

 Penyebabnya adalah karena para malaikat datang ke tempat yang disebut Nama ALLAH itu, sehingga setan melarikan diri. Mengapa setan menghindar bila ada malaikat? Jawabannya adalah karena setan terganggu bila melihat cahaya malaikat.

Dengan kata lain, jika sinar ultraviolet bertemu dengan sinar inframerah di satu tempat, maka sinar merah memudar. Jadi, setan = infra red = api = malam. malaikat = ultraviolet = cahaya = siang hari (matahari akan segera muncul, subuh). Itulah kenapa setan suka sekali berkeliaran di malam hari, karena di siang harinya sifatnya akan memudar karena adanya sinar ultra violet dari matahari. sumber: facebook.

Penciptaan Manusia yang Seimbang

Penciptaan Manusia yang Seimbang
“Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu, lalu menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (Q.S. Al Infithaar : 7)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan penuh dengan kesempurnaan, tentunya tidak sama dengan makhluk lainnya yang telah diciptakan lebih dulu.

Itu artinya kesempurnaan yang dimaksud dalam Qs. At-Tiin (95) : 4, adalah keseimbangan. Dengan kesempurnaan dan keseimbangan ini, diharapkan manusia dapat mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Jika tugas itu dapat ditunaikan dengan baik, maka manusia akan menempati posisi yang mulia di sisi Tuhannya (maqama mahmuda).

Namun sebaliknya, ketika manusia tak menjalankan tugasnya dengan pola-pola keseimbangan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka manusia akan terjerumus pada kebinasaan dan kehinaan,

sedangkan kehidupan di muka bumi rusak dan hancur berantakan. Coba perhatikan kembali ayat ini “Yang telah menciptakan kamu” (pangkal ayat 7).

Manusia diciptakan berawal dari air mani yang terpancar keluar dari sulbi seorang laki-laki, kemudian bercampur dengan air yang keluar daripada taraaib seorang perempuan.

Setelah itu berproseslah selama 9 bulan 10 hari di dalam rahim seorang ibu hingga menjadi sempurna.

Sejak dari segumpal air yang dinamai nuthfah, beransur menjadi segumpal darah yang dinamai ‘alaqah, lanjut menjadi segumpal daging yang dinamai mudhghah. “Lalu menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (ujung ayat 7).

 Bentuk tubuh manusia benar-benar dijadikan Allah seimbang, sehingga dengan mengukur jejak kaki saja, orang dapat menaksir berapa luas muka, berapa panjang tangan, berapa besar kepala dan berapa pula panjang tungkai kaki. Karena besar badan, tingginya, bidang dadanya, luas bahunya dan seluruh badan manusia adalah seimbang.

Itu jugalah yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat At-Tin (95) : 4, bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk dan sesempurnanya ciptaan. “Pada bentuk apapun yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” (ayat 8).

 Allah membuat bentuk tubuh manusia itu sesuka-Nya sendiri; ada yang tinggi, ada yang rendah, ada yang gemuk dan ada yang kurus. Warna kulit pun tidak sama.

Sehingga 10 orang bersaudara, satu ayah satu ibu, berbeda wajahnya, berbeda suaranya dan berbeda pula masing-masing sidik jarinya; tidak ada yang sama dan tidak pula sedikit pun masuk kekuasaan manusia buat menentukan bakat atau bawaan dari masing-masing manusia.

 Dalam satu riwayat dijelaskan dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridlainya- beliau berkata :

“Rasulullah Shalallahu A’laihi Wa Sallam menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan harus dipercaya” : “Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma), kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging, kemudian diutuslah Malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka.

Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq Kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) hingga antara dia dengan jannah sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk an-Naar (neraka), sehingga masuk ke dalamnya (neraka).

Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk neraka, hingga antara dia dengan neraka sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk jannah sehingga masuk ke dalamnya (surga).” Benar apa yang dikatakan oleh kaum sufi bahwa barang siapa yang mengenal dirinya dengan baik, maka dia akan mengenal Tuhannya.

Namun sangat disayangkan, bahwa sedikit dari manusia yang memahami hakikat dirinya, sehingga kebanyakan dari mereka menyia-nyiakan hidupnya sehingga kehidupannya menjadi tidak seimbang. Sebagai contoh yang sederhana ketika manusia lebih mengedepankan hawa nafsunya, maka tatanan yang penuh keseimbangan itu akan rusak dan menjadi tak seimbang,

seperti pada persoalan makan dan minum. Ketika manusia makan dan minum secara berlebihan, maka akan menimbulkan berbagai persoalan kesehatan. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah ketika engkau akan memasuki masjid, makan dan minumlah namun jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Q.S. Al-A’raf [7] : 31). Wallahu A’lam Bishawwab

Rahasia Angka 19 Dalam Al Qur’an

Rahasia Angka 19 Dalam Al Qur’an
Mediametafisika - Setiap muslim pasti meyakini kebenaran Quran sebagai kitab suci yang tidak ada keraguan sedikitpun, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Namun kemukjizatan Quran tidak hanya dibuktikan lewat kesempurnaan kandungan, keindahan bahasa, ataupun kebenaran ilmiah yang sering mengejutkan para ahli.

 Suatu kode matematik yang terkandung di dalamnya misalnya, tak terungkap selama berabad-abad lamanya sampai seorang sarjana dari Mesir bernama Rashad Khalifa berhasil menyingkap tabir kerahasiaan tersebut. Hasil penelitiannya yang dilakukan selama bertahun-tahun dengan bantuan komputer ternyata sangat mencengangkan. Betapa tidak, ternyata didapati bukti-bukti surat-surat atau ayat-ayat dalam Quran serba berkelipatan angka 19.

 Penemuannya tersebut berkat penafsirannya pada Al Qur’an surat Al Muddatstsir ayat : 30-31, yang artinya:

 “Di atasnya ada sembilanbelas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan) : “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia ”. (Qs. Al Muddatstsir : 30- 31)

 Hasil penemuannya yang sangat mengejutkan ini pada tahun 1976 telah didemonstrasikan di depan umum ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London. Berikut cuplikan dari sebagian penemuannya tersebut : (Video)

 1. Setiap surat di dalam Al-Quran dibuka dengan bacaan basmallah yang berbunyi: “Bismillaahirrahmaanirrahiim“.
Dalam aksara Arab, jumlah huruf di dalam bacaanbasmallah itu terdiri dari 19 huruf (19 = 1 x 19). Sembilan belas huruf itu adalah ba, sin,mim, alif, lam, lam, hha, alif, lam, ro, ha, mim, nun, alif, lam, ro, ha, ya, mim.
2. Kalimat basmallah terdiri dari empat kelompok kata: ism, Allaah, ar-rahmaan, danar-rahiim. Marilah kita rinci satu per satu:

- Kata ismu yang artinya “Nama” disebutkan 19 kali di dalam seluruh ayat Al-Quran (19 = 1 x 19).
- Kata Allah di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 2698 kali (2698 = 142 x 19).
 - Kata ar-rahmaan yang artinya “Maha Pengasih” disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 57 kali (57 = 3 x 19).
 - Kata ar-rahiim yang artinya “Maha Penyayang” disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 114 kali (114 = 6 x 19).
 3. Kalimat basmallah di dalam Al-Quran disebutkan 114 kali (114 = 6 x 19). Surat ke-9 tidak dimulai dengan basmallah, surat ke-27 memakai basmallah 2 kali (yaitu pada pembuka dan pada ayat 30).

 4. Jumlah surat di dalam Al-Quran seluruhnya 114 surat (114 = 6 x 19).

 5. Wahyu pertama turun 19 kata (19 = 1 x 19). Wahyu pertama terdapat pada surat nomor 96 (Al-’alaq) ayat 1 sampai 5.
 6. Wahyu kedua turun 38 kata (38 = 2 x 19). Wahyu kedua terdapat pada surat ke-68 ayat 1 sampai 9.

 7. Wahyu ketiga turun 57 kata (57 = 3 x 19). Wahyu ketiga terdapat pada surat ke-73 ayat 1 sampai 10.

 8. Wahyu terakhir turun 19 kata (19 = 1 x 19). Wahyu terakhir terdapat pada surat ke-110 ayat 1 sampai 3.

 9. Surat 96 adalah tempat wahyu pertama. Ternyata surat ini hanya terdiri 19 ayat saja.

 10. Surat 96 sebagai tempat wahyu pertama berada pada bilangan ke-19 dari 114 surat jika dihitung dari belakang, yaitu 114, 113, 112, …, 98, 97, 96.

 11. Wahyu pertama pada surat 96 itu turun sebanyak 5 ayat (ayat 1 sampai 5). Jumlah huruf di dalam 5 ayat itu adalah 76 buah (76 = 4 x 19).

 12. Surat 96 itu seluruhnya terdiri dari 285 huruf (285 = 15 x 19).

 13. Pertengahan Al-Quran terletak pada ayat 19 dari surat 18, (19 = 1 x 19).

 14. Terdapat 29 surat yang dimulai dengan kata yang terdiri dari huruf tunggal sepertiNun, Qof, Shod, maupun kata yang terdiri dari 2, 3, 4, dan 5 huruf seperti “Alif Lam Mim“, “Alif Lam Ro“, “Kaf Ha Ya ‘Ain Shod“. Kata-kata tersebut secara harafiah tidak mempunyai makna, namun Allah lah yang tahu apa maksudnya. Marilah kita rinci sebagai berikut:

 a) Surat ke-2 dimulai dengan “Alif Lam Mim“. Jumlah huruf alif + lam + mim di dalam surat ke-2 itu adalah 4502 + 3202 + 2195 = 9899 = 521 x 19.

 b) Surat ke-3 juga dimulai dengan “Alif Lam Mim“. Jumlah huruf alim + lam + mim di dalam surat ke-3 adalah 2521 + 1892 + 1249 = 5662 = 289 x 19.

 c) Surat ke-7 dimulai dengan “Alim Lam Mim Shod“. Jumlah huruf alim + lam + mim +shod di dalam surat ke-7 itu adalah 2529 + 1530 + 97 = 5320 = 280 x 19.

 d) Surat ke-13 dimulai dengan “Alif Lam Mim Ro“. Jumlah huruf alif + lam + mim + ro di dalam surat ke-13 adalah 605 + 480 + 260 + 137 = 1482 = 72 x 19.

 e) Surat ke-19 dimulai dengan “Kaf Ha Ya ‘Ain Shod“. Jumlah huruf kaf + ha + ya + ‘ain +shod di dalam surat ke-19 itu adalah 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798 = 42 x 19.

 f) Surat ke-36 (surat Yaasiin) dimulai dengan “Yaa Sin“. Jumlah huruf ya + sin di dalam surat ke-36 itu ada sebanyak 237 + 48 = 285 = 15 x 19.

 g) Surat ke-50 dimulai dengan “Qof“. Jumlah huruf qof di dalam surat 50 adalah 57 buah (57 = 3 x 19).

 h) Surat ke-68 dimulai dengan “Nun“. Jumlah huruf nun di dalam surat 68 adalah 133 buah. (133 = 7 x 19).

 i) Tujuh surat dibuka dengan “Haa Mim“, yaitu surat 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46. Jumlah huruf ha + mim di dalam tujuh buah surat itu adalah 2147 buah. (2147 = 113 x 19), dengan rincian:
- Surat 40, jumlah huruf ha + mim = 64 + 380 = 444 - Surat 41, jumlah huruf ha + mim = 48 + 276 = 324 - Surat 42, jumlah huruf ha + mim = 53 + 300 = 353 - Surat 43, jumlah huruf ha + mim = 44 + 324 = 368 - Surat 44, jumlah huruf ha + mim = 16 + 150 = 166 - Surat 45, jumlah huruf ha + mim = 31 + 200 = 231 - Surat 46, jumlah huruf ha + mim = 36 + 225 = 261 Total = 444 + 324 + 353 + 368 + 166 + 231 + 261 = 2147 = 113 x 19

 j) Ada enam buah surat yang dibuka dengan “Alim Lam Mim“. Jumlah huruf alif + lam +mim pada enam buah surat tersebut adalah 19874 buah, (19874 = 1046 x 19), dengan rincian: - Surat 2, jumlah huruf alif + lam + mim = 4502 + 3202 + 2195 = 9899 = 521 x 19 - Surat 3, jumlah huruf alif + lam + mim = 2521 + 1892 + 1249 = 5662 = 298 x 19 - Surat 29, jumlah huruf alif + lam + mim = 774 + 554 + 344 = 1672 = 88 x 19 - Surat 30, jumlah huruf alif + lam + mim = 554 + 393 + 317 = 1254 = 66 x 19 - Surat 31, jumlah huruf alif + lam + mim = 347 + 297 + 173 = 817 = 43 x 19 - Surat 32, jumlah huruf alif + lam + mim = 257 + 155 + 158 = 570 = 30 x 19 Total = 9899 + 5662 + 1672 + 1254 + 817 + 570 = 19874 = 1046 x 19.  

k) Semua surat yang dimulai dengan “Alif Lam Ro“, jumlah huruf alif + lam + ro = 9462 = 498 x 19, dengan rincian sebagai berikut:
- Surat 10, jumlah alif + lam + ro = 1319 + 913 + 257 = 2489 = 131 x 19 - Surat 11, jumlah alif + lam + ro = 1370 + 794 + 325 = 2489 = 131 x 19 - Surat 12, jumlah alif + lam + ro = 1306 + 812 + 257 = 2375 = 125 x 19 - Surat 14, jumlah alif + lam + ro = 585 + 452 + 160 = 1197 = 63 x 19 - Surat 15, jumlah alif + lam + ro = 493 + 323 + 96 = 912 = 48 x 19 Total = 2489 + 2489 + 2375 + 1197 + 912 = 9462 = 498 x 19

Dari paparan angka-angka di atas, dapatkah kita menyatakan bahwa Al-Quran itu diturunkan secara cermat dalam modulo 19 atau kelipatan 19? Semua angka tersebut tampak seperti deretan bilangan acak (random), namun setelah diteliti merupakan kelipatan angka 19.

 Subhanallah! Allaahu Akbar! Fenomena angka 19 ini membuktikan bahwa Al-Quran bukanlah buatan manusia, tetapi ia benar-benar berasal dari Allah SWT. Fenomena 19 bukan pula suatu kebetulan atau mengada-ada, tetapi sebagai bukti kebenaran Al-Quran itu sendiri.

Ayat-ayat Al-Quran tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, huruf demi huruf, karena Allah selalu menjaga keasliannya, seperti yang difirmankan dalam dua ayat berikut:

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. (Qur’an Surat Al-An’am ayat 115)

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami memeliharanya“. (Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9) Maha Benar Allah yang Maha Agung.

Ini Keajaiban Redaksi Al-Qur'an Yang Sangat Menakjubkan

Ini Keajaiban Redaksi Al-Qur'an Yang Sangat Menakjubkan
Mediametafisika - Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur’an Al-Karim yang terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang Keajaiban di dalam Al quran, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat sebagai berikut :

 1. Keseimbangan kata atau kalimat di dalamnya
 A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.
* Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
* Al-naf’ (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50 kali;
* Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
* Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali;
* Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan),
 masing-masing 13 kali;
* Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8 kali;
* Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing 17 kali;
* Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing 8 kali;
 * Al-shayf (musim panas) dan al-syita’ (musim dingin), masing-masing 1 kali.

 B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.
* Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
* Al-’ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27 kali;
* Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17 kali;
* Al-Qur’an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam), masing-masing 70 kali;
* Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
* Al-jahr dan al-’alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

 C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya. * Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
* Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali;
* Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/ pembakaran), masing-masing 154 kali;
* Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak), masing-masing 32 kali;
* Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.

 D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.
* Al-israf (pemborosan) dengan al-sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali;
* Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali;
* Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
* Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali.

 E. Keseimbangan-keseimbangan khusus.

 (1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti “bulan” (syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

 (2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh”. Penjelasan ini diulanginya sebanyak 7 kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29, Al-Isra’ 44, Al-Mu’minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh 15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam hari dinyatakan pula dalam 7 ayat.

 (3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

 (4) Kata lautan (al bahar) disebutkan 32 kali sedangkan kata daratan (al bar) disebutkan 13 kali. Jika di jumlahkan perkataan yang berkaitan tentang “lautan” dan “daratan” adalah 45 perkataan. Seperti pengiraan berikut : Lautan : 32/45 X 100% = 71.11111111%
Daratan : 13/45 X 100% = 28.88888888%

 Kini telah kita ketahui persentase antara “Lautan” dan “Daratan” di dalam dunia ini sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab suci Al Quran.

 (5) [Quran 3:59] Sesungguhnya persamaan “Isa” di sisi Allah seperti persamaan “Adam”. Kata “Isa” dan “Adam” sama-sama muncul 25 kali.

 (6) [Quran 7:176] Persamaan “anjing” dengan “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” adalah : bahwa “kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) dipersamakan/ diibaratkan kelakuannya seperti seekor “anjing” (kalb). Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, atau jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidahnya juga.

 “Anjing” (kalb) tertulis 5 kali sebagaimana kata “Kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami” (al-qawmul-ladzi_na kadz-dabu_ bi a_ya_tina_) tertulis 5 kali juga.

 (7) [Quran 29:41] Persamaan “orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi), ialah seperti persamaan “laba-laba” (al-’ankabu_t). Laba-laba (al-’ankabu_t) tertulis 2 kali, “Orang-orang yang mengambil untuk mereka wali-wali selain daripada Allah” (alladzi_nat-takhadzu_ mindu_nil-laahi) tertulis 2 kali juga.

 (8) [Quran 62:5] Persamaan “orang-orang yang dibebankan dengan Taurat”,kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti persamaan “seekor keledai” yang memikul buku-buku yang tebal. “Keledai” (al-hima_r) dan “orang-orang yang dibebankan dengan taurat” (al-ladzi_na humilut-tawra_t) sama-sama muncul
 di ayat ini, yaitu hitungannya sama-sama satu kali muncul.  

F. Berkaitan dengan pertidaksamaan matematik.

 Dalam Quran, dijumpai hint tentang pertidaksamaan ketika ada ayat yang menyatakan “Adakah sama antara A dan B (hal yastawi_ A wa B?), sebagaimana ditemukan dalam beberapa ayat. Tentunya, kita akan berfikiran bahwa tentu saja kemungkinan (probabilitas) ketidaksamaan jumlah antara A dan B adalah sangat besar, akan tetapi anehnya, jika kita temukan ayat yang menyatakan ketidaksamaan antara A dan B, diketahui bahwa perbedaan jumlah antara A dan B adalah TEPAT SATU.

 Contoh: [Quran 4:95] Tidaklah sama antara “mu’min yang duduk [yang tidak ikut berperang] yang tidak mempunyai “uzur”” (al-qa_idu_n) dengan “orang-orang yang berjihad di jalan Allah” (al-muja_hidu_n) …

 Jumlah kemunculan (al-qa_idu_n) / (al-qa_idi_n) = 4
Jumlah kemunculan (al-muja_hidu_n) / (al-muja_hidi_n) = 3

 [Quran 6:50] .. Apakah sama “orang yang buta” (al-a’ma_) dengan “orang yang melihat” (al-bashi_r)? Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?  

Jumlah kemunculan (al-a’ma_) = 8
Jumlah kemunculan (al-bashi_r) = 9

 [Quran 13:16] .. Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah “gelap gulita” (adz-dzuluma_t) dan “terang benderang” (an-nu_r) …

 Jumlah kemunculan (adz-dzuluma_t) = 14 Jumlah kemunculan (an-nu_r) = 13

 Ada sedikit kejanggalan terhadap fenomena ini di Quran 5:100, yang dijelaskan sebagai berikut :

 [Quran 5:100] .. :
Tidak sama “yang buruk” (al-khabi_ts) dengan”yang baik” (at-thayyib), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, …  

Catat akhir ayat di atas, bahwa: “banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, …
” Ternyata, jumlah kata (al-khabi_ts) dengan (at-thayyib) adalah SAMA, yaitu 7 kali kemunculan. Penjelasan dari kejanggalan ayat ini ditemukan di Quran 8:37 yang menyatakan :

 [Quran 8:37] Supaya Allah memisahkan yang buruk daripada yang baik, dan “supaya Dia meletakkan yang buruk, sebahagiannya di atas sebahagian yang lain”, … Di ayat ini, dikatakan bahwa Dia meletakkan “yang buruk” (al-khabi_ts) sebahagian di atas sebahagian yang lainnya, sehingga jumlahnya seakan-akan bertambah (seakan-akan sama, yakni sama-sama muncul 7 kali).  

2. Adanya pemberitaan ghaib di dalamnya

 Fir’aun, yang mengejar-ngejar Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu, ditegaskan bahwa “Badan Fir’aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk menjadi pelajaran generasi berikut.” Tidak seorang pun mengetahui hal tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M.

 Nanti, pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir’aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir’aun tersebut.

 Apa yang ditemukannya..? adalah satu jasad Fir’aun utuh, seperti yang diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan menulis itu). Mungkinkah ini? Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat Fir’aun tersebut.

Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan yang terbatas ini.

 3. Isyarat-isyarat ilmiah yang terkandung di dalamnya

 Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa “Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari cahaya matahari)” (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya bagaikan “ladang” (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini.

 Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang Maha Mengetahui.?

 Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan petunjuk-petunjukNya.

 Subhanallah.. Maha benar Allah dengan segala firmanNya (di dalam Al-Qur’an).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. napak tilas patilasan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger